Brilio.net - Sekretariat Jenderal MPR RI mengambil langkah tegas menyusul kegaduhan yang terjadi dalam babak final Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR RI 2026 tingkat Provinsi Kalimantan Barat. Pihak penyelenggara secara resmi menonaktifkan Dewan Juri dan Pembawa Acara (MC) yang bertugas dalam kegiatan tersebut.

Keputusan ini diambil setelah video pelaksanaan lomba viral dan memicu kritik tajam dari masyarakat. Melalui akun resmi Instagram @mprgoid, lembaga negara tersebut menyampaikan permohonan maaf terbuka.

"MPR RI melalui Sekretariat Jenderal MPR RI menyampaikan permohonan maaf atas kelalaian Dewan Juri yang menyebabkan polemik terkait pelaksanaan Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR RI di Provinsi Kalimantan Barat," tulis pihak MPR RI dalam keterangan resminya pada Selasa (12/5/2026), dikutip brilio.net, Rabu (13/5/2026).

Pihak panitia menegaskan bahwa tindakan penonaktifan ini merupakan bentuk tanggung jawab untuk menjaga sportivitas dan objektivitas kompetisi.

"Mengenai penilaian jawaban peserta pada salah satu sesi lomba, panitia pelaksana dari Sekretariat Jenderal MPR RI telah menonaktifkan Dewan Juri dan MC pada kegiatan LCC ini," lanjut keterangan tersebut.

Shindy Lutfiana MC LCC Empat Pilar MPR 2026 © 2026

Shindy Lutfiana MC LCC Empat Pilar MPR 2026
© 2026 Instagram/@mprgoid

Curahan Hati Shindy Lutfiana Setelah Kehilangan Pekerjaan

Menyusul sanksi penonaktifan tersebut, Shindy Lutfiana selaku MC acara akhirnya bersuara. Melalui unggahan di Instagram @shindy_mcwedding, ia mengungkapkan beban mental yang dialaminya setelah menerima ribuan hujatan di media sosial.

"Ketika aku membaca ribuan komentar dari netizen, hampir semua isinya hujatan untuk aku, semua kata-kata isi kebun binatang keluar, sumpah serapah aku terima, sampai seruan boykot Shindy MC. Dan sampai akhirnya memang benar-benar semua harapan dan tuntutan netizen terwujud, aku hilang pekerjaan," tulis Shindy dikutip dari Instagram @shindy_mcwedding, Rabu (13/5/2026).

Meski mengaku menerima keputusan tersebut dengan lapang dada sebagai konsekuensi dari kesalahannya, Shindy mengaku kecewa dengan sikap rekan seprofesinya.

"Tapi tidak ada yang lebih menyakitkan dalam kejadian ini, ketika aku melihat dari teman-teman sejawat seprofesiku memanfaatkan moment 'jatuhnya aku sekarang' untuk menghakimiku bahkan merayakannya," ungkapnya.

Shindy Lutfiana MC LCC Empat Pilar MPR 2026 © 2026

 

Shindy Lutfiana MC LCC Empat Pilar MPR 2026
© 2026 Instagram/@shindy_mcwedding

Awal Mula Kontroversi: Masalah Artikulasi dan "Perasaan Adik-adik"

Shindy Lutfiana MC LCC Empat Pilar MPR 2026 © 2026

Shindy Lutfiana MC LCC Empat Pilar MPR 2026
© 2026 YouTube @MPRGOID

Ketegangan bermula pada 9 Mei 2026 saat babak final memasuki sesi rebutan. Regu C dari SMAN 1 Pontianak menjawab pertanyaan mengenai lembaga yang memberi pertimbangan kepada DPR dalam memilih anggota BPK. Meski menjawab dengan benar dan menyebutkan Dewan Perwakilan Daerah (DPD), juri Dyastasita menyalahkan jawaban tersebut dan memberikan nilai minus lima (-5).

Situasi memanas ketika pertanyaan yang sama dilempar ke Regu B. Dengan jawaban yang identik, Regu B justru mendapatkan nilai sepuluh (10). Protes keras dari Regu C tidak diindahkan. Juri lainnya, Indri Wahyuni, justru meminta peserta memperjelas artikulasi bicara ketimbang mengoreksi kesalahan poin.

Kondisi diperparah oleh respons Shindy Lutfiana sebagai MC yang dianggap meremehkan keberatan peserta.

“… Mungkin itu hanya perasaan adik-adik saja," ucap Shindy kala itu.

Terkait ucapan tersebut, Shindy sebelumnya telah menyampaikan permohonan maaf secara mendalam.

"Dengan segala kerendahan hati, saya menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya atas semua ucapan saya, terutama yaitu: 'mungkin itu hanya perasaan adik-adik saja', yang seharusnya tidak patut saya sampaikan dalam kapasitas saya sebagai MC pada kegiatan tersebut," tulisnya.

Evaluasi Menyeluruh Sistem Perlombaan MPR RI

Kejadian ini menjadi momentum bagi MPR RI untuk merombak tata kelola lomba. Selain menonaktifkan personil yang terlibat, MPR berjanji akan melakukan audit teknis pada mekanisme penilaian dan sistem verifikasi jawaban agar peristiwa serupa tidak terulang kembali.

"MPR RI akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap aspek teknis pelaksanaan lomba, termasuk mekanisme penilaian, sistem verifikasi jawaban peserta, dan tata kelola keberatan dalam perlombaan agar pelaksanaannya ke depan dapat berlangsung semakin baik, transparan, dan akuntabel," tutup keterangan resmi tersebut.