Brilio.net - Pelaksanaan Final Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR RI 2026 tingkat Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar) tengah menjadi perbincangan hangat di media sosial. Sorotan publik muncul setelah sebuah potongan video menunjukkan ketidakkonsistenan dewan juri dalam memberikan poin kepada peserta, meski jawaban yang disampaikan secara substansi identik.

Peristiwa ini terjadi dalam babak final wilayah yang mempertemukan tiga sekolah, yakni SMAN 1 Sanggau (Regu A), SMAN 1 Sambas (Regu B), dan SMAN 1 Pontianak (Regu C). Ketiga juri yang bertugas pada saat itu adalah Dyastasita W.B (Kepala Biro Pengkajian Setjen MPR RI), Indri Wahyuni (Kepala Bagian Sekretariat Badan Sosialisasi MPR RI), dan Triyatni (Kepala Biro Perencanaan dan Keuangan Setjen MPR RI).

Kronologi Penilaian yang Menjadi Polemik

Lomba Cerdas Cermat MPR 2026 © 2026

Lomba Cerdas Cermat MPR 2026
© 2026 YouTube @MPRGOID

Kejadian bermula pada sesi pertanyaan rebutan. Pembawa acara atau MC melontarkan pertanyaan mengenai prosedur pemilihan anggota Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) yang berkaitan dengan perwakilan daerah.

"Pimpinan BPK dipilih dari dan oleh anggota. Namun untuk menjadi anggota BPK, keterkaitan dengan perwakilan daerah tetap dijaga. DPR dalam memilih anggota BPK diwajibkan untuk memperhatikan pertimbangan dari lembaga mana?" tanya moderator, dikutip dari YouTube @MPRGOID, Selasa (12/5/2026).

Regu C dari SMAN 1 Pontianak langsung menekan bel dan memberikan jawaban secara lengkap. Peserta menyebutkan bahwa anggota BPK dipilih oleh DPR dengan memperhatikan pertimbangan Dewan Perwakilan Daerah (DPD) dan diresmikan oleh Presiden. Namun, juri Dyastasita justru memberikan nilai minus lima.

Lomba Cerdas Cermat MPR 2026 © 2026

Lomba Cerdas Cermat MPR 2026
© 2026 YouTube @MPRGOID

Ketika pertanyaan dilempar kembali, Regu B dari SMAN 1 Sambas memberikan jawaban yang sama persis dengan Regu C. Anehnya, juri yang sama justru membenarkan jawaban tersebut.

"Iya, inti jawabannya sudah benar. Nilai 10," ujar Dyastasita saat memberikan poin kepada Regu B.

Protes Peserta dan Pembelaan Dewan Juri

Melihat ketidakadilan tersebut, perwakilan Regu C segera mengajukan keberatan. Siswi tersebut menegaskan bahwa jawaban mereka tidak berbeda dengan Regu B.

"Izin, tadi kami menjawabnya sama seperti regu B. Sama," protes perwakilan Regu C.

Namun, Dyastasita beralasan bahwa Regu C tidak menyebutkan frasa "Dewan Perwakilan Daerah" dalam jawaban awal mereka. Ia menyatakan, "Tadi disebutkan regu C ya, itu pertimbangan dari DPD-nya tidak ada. DPR tadi."

Meski Regu C bersikeras telah menyebutkan DPD dan bahkan meminta pandangan penonton, juri tetap pada keputusannya. Juri lainnya, Indri Wahyuni, turut memberikan pembelaan terkait pentingnya artikulasi.

"Begini, ya, kan sudah diperingatkan dari awal, ya, artikulasi itu penting. Jadi, biasakan menjawab itu dengan artikulasi yang jelas, ya. Kalau menurut kalian sudah, tapi dewan juri menilai kalian tidak, karena tidak mendengar artikulasi kalian dengan jelas, ya, itu artinya dewan juri berhak memberikan nilai minus lima," tegas Indri.

Lomba Cerdas Cermat MPR 2026 © 2026

Lomba Cerdas Cermat MPR 2026
© 2026 YouTube @MPRGOID

Buntut Perkara LCC 4 Pilar Kalbar

Peristiwa ini pun sontak menjadi pembahasan panas publik di media sosial. Banyak yang menilai ketidakadilan terjadi dalam lomba cerdas cermat ini. Selain itu, warganet juga menilai terdapat pernyataan-pernyataan tidak etis yang dilontarkan juri maupun MC.

Buntut perkara Lomba Cerdas Cermat MPR RI 2026 bukan hanya “rujakan” warganet, namun juga sikap dan respons pihak-pihak bersangkutan. Sampai Selasa (12/5/2026), berikut adalah pihak-pihak yang menyatakan sikap dan respons atas perkara ini.

1. Permohonan Maaf dan Evaluasi Total MPR RI

Wakil Ketua MPR RI, Abcandra Muhammad Akbar Supratman, secara resmi meminta maaf atas insiden yang terjadi pada Sabtu (9/5/2026). Ia mengakui adanya kelalaian dari pihak juri dan panitia, termasuk teknis tata suara.

"Kami mohon maaf atas kelalaian dewan juri. Kami akan tindak lanjuti kejadian ini," kata Akbar pada Senin (11/5/2026), sebagaimana dikutip dari laman merdeka.com.

Pihaknya berjanji melakukan evaluasi menyeluruh agar integritas lomba tetap terjaga.

2. Klarifikasi Resmi SMAN 1 Pontianak

Melalui akun Instagram resminya @smansaptk.informasi, SMAN 1 Pontianak meminta transparansi terkait dasar keputusan juri.

Pihak sekolah menilai tim mereka sudah menjawab dengan artikulasi yang jelas. Mereka menuntut penjelasan resmi dan evaluasi proses penilaian guna menjaga nilai sportivitas dalam dunia pendidikan.

“PERMOHONAN KONFIRMASI DAN KLARIFIKASI PELAKSANAAN LCC 4 PILAR KALIMANTAN BARAT @mprgoid @badsosmpr

Sehubungan dengan anjuran untuk menyaksikan tayangan ulang sebagai bentuk ikhtiar dalam mengonfirmasi jalannya pelaksanaan LCC 4 Pilar tingkat Kalimantan Barat, kami telah melakukan peninjauan kembali secara cermat.

Berdasarkan hasil tersebut, kami menemukan beberapa hal yang perlu mendapat perhatian dan klarifikasi, yaitu:

1. Adanya kesamaan substansi jawaban antara tim SMAN 1 Pontianak dan SMAN 1 Sambas, namun dewan juri memberikan pembenaran hanya kepada salah satu pihak tanpa penjelasan yang transparan.

2. Kurangnya fokus dewan juri dalam beberapa momen penilaian, yang berpotensi memengaruhi objektivitas hasil.

3. Adanya indikasi penggunaan relasi kuasa oleh dewan juri, tanpa didahului proses konfirmasi dan klarifikasi yang memadai. Hal ini diperkuat dengan adanya validasi sepihak melalui MC mengenai kompetensi juri, sehingga kegiatan tetap dilanjutkan tanpa penyelesaian yang proporsional.

4. Tim SMAN 1 Pontianak telah menyampaikan jawaban dengan artikulasi yang jelas dan tegas, sehingga layak mendapatkan penilaian yang objektif sesuai substansi jawaban.

Lomba Cerdas Cermat MPR 2026 © 2026

Lomba Cerdas Cermat MPR 2026
© 2026 Instagram/@smansaptk.informasi

Berdasarkan hal-hal tersebut, kami memohon kepada pihak penyelenggara untuk:

Memberikan konfirmasi resmi terkait temuan-temuan di atas,
Menyampaikan penjelasan yang transparan mengenai dasar pengambilan keputusan dewan juri.

Melakukan evaluasi terhadap proses penilaian, guna menjaga integritas dan kredibilitas kegiatan LCC 4 Pilar ke depan.

Demikian permohonan ini kami sampaikan sebagai bentuk komitmen terhadap nilai keadilan, objektivitas, dan sportivitas dalam dunia pendidikan.

Atas perhatian dan tanggapan yang diberikan, kami ucapkan terima kasih.,” demikian isi pernyataan sikap pihak sekolah di akun Instagram.

Lomba Cerdas Cermat MPR 2026 © 2026

Lomba Cerdas Cermat MPR 2026
© 2026 Instagram/@smansaptk.informasi

3. Desakan Blacklist Juri dari Alumni

Lomba Cerdas Cermat MPR 2026 © 2026

Lomba Cerdas Cermat MPR 2026
© 2026 Instagram/@bang.rifqi.mrk

Ketua Komisi II DPR RI yang juga alumni SMAN 1 Pontianak, Rifqinizamy Karsayuda, memberikan respons keras. Ia meminta juri yang bersangkutan meminta maaf secara terbuka dan mendesak MPR RI untuk mem-blacklist juri tersebut.

"Karena itu, yang pertama saya meminta akan ada segera permohonan maaf dan klarifikasi dari Biro Persidangan MPR RI terkait hal ini. Sampaikan kronologis secara utuh kenapa ini bisa terjadi. Yang kedua saya meminta juri yang kemudian sangat fatal memberikan penilaian dan tanggapan untuk kemudian meminta maaf dan klarifikasinya. Akui bahwa Anda salah. Yang ketiga, kami meminta kepada MPR RI untuk mem-blacklist juri tersebut untuk tidak bisa lagi digunakan. Ini preseden buruk dan saya kira apapun alasannya ini mencederai intelektualitas dan nilai-nilai konstitusionalisme yang kita anut selama ini," tegas Rifqinizamy dikutip dari Instagram bang.rifqi.mrk.

Rifqinizamy Karsayuda amat menyayangkan peristiwa ini lantaran mencederai upaya yang sudah dilakukan anggota MPR RI maupun institusi MPR RI untuk merangkul seluruh siswa-siswi SLTA di Indonesia sebagai jembatan mensosialisasikan 4 pilar kebangsaan (Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Bhinneka Tunggal Ika, Pancasila, dan pilar kebangsaan yang lain).