Brilio.net - Dunia internasional kini tertuju pada Timur Tengah menyusul pecahnya konflik bersenjata skala besar. Serangan udara gabungan yang diluncurkan pihak luar telah memicu balasan masif, yang berakibat pada kerusakan infrastruktur sipil yang signifikan di Iran, mulai dari Rumah Sakit Gandhi di Teheran hingga fasilitas pendidikan di berbagai provinsi. Jalur logistik global pun terancam setelah Selat Hormuz dinyatakan tertutup bagi pelayaran strategis.
Dikutip dari s3pendsains.fmipa.unesa.ac.id, konflik yang memuncak pada akhir Februari 2026 ini dimulai dengan "Operation Lion’s Roar" (disebut juga "Epic Fury") yang menargetkan pusat pertahanan dan kepemimpinan Iran. Berdasarkan data Palang Merah setempat, sedikitnya 201 orang dinyatakan meninggal dunia, termasuk puluhan siswi dalam insiden tragis yang menghantam sekolah dasar di Minab. Sebagai balasan, gelombang rudal Iran dilaporkan menjangkau kawasan Tel Aviv dan fasilitas umum di Uni Emirat Arab.
Laporan Mengenai Kepemimpinan Tertinggi Iran
Situasi semakin kritis setelah media pemerintah mengonfirmasi wafatnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, akibat serangan yang menghantam kompleks kediamannya di Teheran. Khamenei, yang telah memegang tampuk kekuasaan sejak 1989, dilaporkan tewas bersama beberapa anggota keluarga. Selain itu, laporan mengenai mantan Presiden Mahmoud Ahmadinejad yang turut menjadi korban masih dalam tahap verifikasi oleh otoritas internasional.
Refleksi Reza Rahadian: Harapan di Tengah Ketegangan
Reza Rahadian Tanggapi Ketegangan di Iran
foto: YouTube/Prof. Rhenald Kasali
Menariknya, tepat satu bulan sebelum konfrontasi fisik ini meletus, aktor papan atas Indonesia, Reza Rahadian, sempat berbagi pandangan mengenai situasi di tanah kelahiran ayahnya tersebut dalam sebuah diskusi bersama Prof. Rhenald Kasali, Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI).
Meski wawancara ini dilakukan saat situasi masih dalam tahap ketegangan politik (sebelum serangan Februari 2026) yakni pada Januari 2026 di kanal YouTube Prof. Rhenald Kasali, pernyataan Reza memberikan pandangan manusiawi pada krisis yang terjadi.
Dalam percakapan tersebut, Rhenald Kasali mengonfirmasi latar belakang sang aktor, "Anda kan mempunyai darah Iran?" yang dibenarkan oleh Reza, "Iya. Betul."
Meski memiliki ikatan darah, Reza menegaskan bahwa hubungannya secara personal telah lama terputus.
"Kebetulan tidak [ada hubungan lagi]. Terputus. Karena saya sudah berpisah dengan ayah saya sejak saya lahir," ungkapnya. Namun, ia tetap mengikuti perkembangan situasi yang ia sebut, "Walah, sangat ramai."
Membaca Arah Perubahan Iran
Terkait dinamika politik yang berkembang, termasuk munculnya suara-suara dari tokoh eksil, Reza menunjukkan sikap hati-hati namun penuh harap. Ia menyoroti sosok putra mendiang Shah Iran yang kini berada di Amerika Serikat.
"Kemudian ada statement dari Reza Pahlavi... anak dari the King, Syah Reza Pahlavi. Jadi saya masih berusaha membaca, is this something good that happens atau is there any scenarios behind it? Itu yang belum bisa saya pastikan," ujar Reza.
Walau berbicara sebagai warga negara Indonesia, Reza mendukung penuh perjuangan rakyat Iran demi masa depan yang lebih baik.
“Tapi bahwa kemudian melihat ada gerakan yang cukup besar untuk mereka memperjuangkan apa yang ingin mereka perjuangkan, whatever it is for the better of Iran, saya nggak bisa ngomong atas nama Iran gitu karena saya sebagai orang Indonesia gitu…. Tapi mudah-mudahan whatever it is, it's for the better for Iran sih,” papar sutradara film “Pangku” tersebut.
Persia: Bangsa Ilmu Pengetahuan
Diskusi tersebut juga menyentuh kejayaan masa lalu Persia sebagai pusat peradaban. Rhenald menekankan bahwa Iran adalah bangsa besar penentu sejarah ilmu pengetahuan, yang diamini oleh Reza.
"Ya. Iranian is very famous for their knowledge. Mereka adalah bangsa yang penuh dengan ilmu pengetahuan. Ya, perkembangan ya peradaban ilmu pengetahuan," tutur peraih lima Piala Citra tersebut.
Kisah Pribadi: Figur Ibu di Balik Sosok Reza
Kaitan Reza dengan Iran murni berasal dari sang ayah yang belum pernah ia temui sejak usia enam bulan. Dalam sebuah kesempatan di tahun 2024, Reza mengakui tidak memiliki memori visual tentang ayahnya.
“Ya jadi gue juga enggak tahu rasanya kehilangan karena gue juga enggak tahu rasanya memilikinya,” ucapnya, dikutip dari kanal YouTube HAS Creative.
Alih-alih mencari keberadaan sang ayah yang terakhir diketahui berada di Iran, Reza lebih memilih menghargai dedikasi ibundanya.
“Dan gue juga enggak pernah nyari bokap sampai sekarang. Bokap itu terakhir gue tahunya dia di Iran,” ucap Reza Rahadian. Tetapi, dari semua pengalaman itu, Reza Rahadian mengagumi sosok ibundanya yang luar biasa membesarkannya seorang diri.
“Tapi nyokap gue itu memang luar biasa. Salah satu orang terbaik di dunia,” ucap Reza Rahadian.
Recommended By Editor
- Pernah hidup susah, Reza Rahadian ngaku jadi tukang potong rumput demi bantu ibunya cari nafkah
- Kompak meski beda ayah, begini 6 potret kompak Reza Rahadian dan adik gantengnya yang jarang tersorot
- Tak cuma asal ngritik tapi juga beraksi, 9 potret Reza Rahadian ngajar siswa di daerah terpencil NTB
- Reza Rahadian ucapkan terima kasih lewat surat di hari ultah, tulisannya mirip guru jadul tuai pujian
- Kisah Francisca Fanggidaej nenek Reza Rahadian, pejuang kemerdekaan yang namanya dihapus dalam sejarah

































