Sudah dipel berkali-kali, tapi bau kencing kucing di lantai keramik masih saja tercium? Ternyata bukan masalah malas bersih-bersih — melainkan soal cara dan bahan yang digunakan.

Urin kucing mengandung asam urat yang sifatnya mengikat kuat pada permukaan keramik, terutama di bagian nat. Kristal asam urat ini tidak larut dengan air atau deterjen biasa, dan akan kembali berbau saat kondisi udara lembap. Itulah kenapa bau itu seperti tidak pernah benar-benar pergi.

Memahami sifat kimia urin kucing adalah kunci sebelum memilih metode pembersihan yang tepat. Berikut langkah-langkah praktis yang bisa dicoba secara berurutan yang dilansir dari Liputan6, Minggu (10/5/2026).

Langkah 1: Serap Urin Sesegera Mungkin

Begitu melihat bekas pipis kucing, jangan langsung dipel. Mengepel urin yang masih basah justru menyebarkan cairan ke area yang lebih luas dan memperparah masalah.

Lakukan ini lebih dulu:

1. Ambil tisu dapur atau kain bekas yang punya daya serap tinggi.
2. Tekan-tekan perlahan di atas area yang terkena urin — jangan digosok.
3. Ulangi hingga area tersebut terasa kering saat disentuh.
4. Buang tisu atau kain bekas tersebut langsung ke tempat sampah di luar rumah agar aroma tidak menyebar ke dalam ruangan.

Langkah 2: Gunakan Pembersih Enzimatik

Ini adalah solusi paling efektif yang tersedia saat ini. Pembersih enzimatik diformulasikan khusus untuk memecah kristal asam urat dan protein dalam urin kucing — sesuatu yang tidak bisa dilakukan oleh pembersih lantai biasa.

Cara pakainya:

1. Semprotkan pembersih enzimatik secara merata ke seluruh area yang terkena noda.
2. Biarkan selama 10–15 menit agar enzim bekerja memecah sisa protein urin.
3. Lap bersih dengan kain atau tisu.

Produk enzimatik kini sudah mudah ditemukan di toko hewan peliharaan maupun e-commerce dengan harga terjangkau.

Langkah 3: Larutan Cuka Putih sebagai Alternatif Alami

Tidak punya pembersih enzimatik? Cuka putih bisa jadi pilihan darurat yang cukup efektif. Sifat asamnya membantu menetralkan garam alkali dari noda urin yang sudah mengering.

Langkah-langkahnya:

1. Campurkan cuka putih dan air dengan perbandingan 1:1.
2. Tuangkan larutan ke area lantai yang berbau.
3. Diamkan 5–15 menit.
4. Gunakan sikat gigi bekas untuk menyikat bagian nat keramik yang sulit dijangkau.
5. Lap dengan kain bersih yang lembap hingga kering.

Langkah 4: Taburkan Soda Kue untuk Bau yang Membandel

Kalau setelah langkah di atas bau masih samar tercium saat lantai kering, soda kue bisa jadi andalan berikutnya. Cara kerjanya adalah menyerap sisa bau yang masih tertinggal di permukaan.

Caranya:

1. Taburkan soda kue secara merata di atas area yang masih berbau.
2. Biarkan selama beberapa jam, atau diamkan semalaman untuk hasil maksimal.
3. Keesokan harinya, sapu atau gunakan penyedot debu untuk membersihkan bubuk yang tersisa.

Langkah 5: Hidrogen Peroksida untuk Noda Kuning di Keramik Putih

Urin kucing terkadang meninggalkan noda kuning yang menempel di keramik, terutama pada keramik berwarna terang. Hidrogen peroksida bisa membantu mengangkat noda tersebut.

Cara pakainya:

1. Campurkan sedikit hidrogen peroksida dengan setetes sabun cuci piring.
2. Gosokkan campuran ini pada noda yang membandel.
3. Biarkan sebentar, lalu bilas dengan air bersih.

Penting: Selalu coba dulu di area kecil yang tidak terlihat untuk memastikan tidak merusak warna keramik.

Tips Tambahan: Cegah Kucing Buang Air di Tempat yang Sama

Setelah lantai bersih, langkah pencegahan sama pentingnya. Kucing punya kebiasaan kembali ke tempat yang pernah berbau urin karena menganggapnya sebagai "territorinya."

Beberapa hal yang bisa dilakukan:

- Hindari pembersih berbasis amonia. Aroma amonia justru mirip dengan urin dan bisa memancing kucing kembali ke lokasi yang sama.
- Gunakan penghalang aroma sitrus. Campurkan air dengan minyak lemon atau perasan jeruk nipis, lalu semprotkan di area tersebut. Kucing umumnya tidak menyukai aroma sitrus.
- Periksa kondisi kotak pasir. Kucing yang pipis sembarangan sering kali sedang memberi sinyal bahwa kotak pasirnya kurang bersih atau posisinya kurang nyaman.

FAQ: Pertanyaan Umum Seputar Bau Kencing Kucing di Lantai

1. Kenapa bau kencing kucing lebih menyengat dibanding hewan lain?

Urin kucing mengandung kadar protein dan hormon yang lebih tinggi, termasuk senyawa felidin yang terurai menjadi bau sulfur khas. Kombinasi inilah yang membuat aromanya jauh lebih tajam dan tahan lama dibanding urin hewan peliharaan lain.

2. Apakah pel lantai biasa bisa menghilangkan bau kencing kucing sepenuhnya?

Tidak. Pel biasa hanya membersihkan permukaan, tapi tidak mampu memecah kristal asam urat yang sudah meresap ke pori-pori keramik dan nat. Itulah mengapa bau sering kembali muncul meski lantai sudah terlihat bersih.

3. Bolehkah mencampur cuka dan soda kue sekaligus untuk hasil lebih cepat?

Sebaiknya tidak digunakan bersamaan. Keduanya bereaksi membentuk busa yang justru mengurangi efektivitas masing-masing bahan. Gunakan cuka terlebih dahulu, biarkan kering, baru taburkan soda kue jika masih diperlukan.

4. Apakah bau kencing kucing berbahaya bagi kesehatan manusia?

Paparan jangka panjang terhadap amonia dari urin kucing yang tidak dibersihkan bisa mengiritasi saluran pernapasan, terutama pada anak-anak, lansia, atau penderita asma. Membersihkan segera dan menjaga ventilasi ruangan adalah langkah paling bijak.

5. Kucing sudah disterilisasi, tapi masih pipis sembarangan — kenapa?

Sterilisasi memang mengurangi perilaku spraying (menyemprot urin sebagai tanda wilayah), tapi tidak menghilangkannya sepenuhnya. Kucing yang stres, merasa terancam, atau tidak nyaman dengan kotak pasirnya tetap bisa pipis di luar tempatnya. Konsultasi ke dokter hewan dianjurkan jika perilaku ini terus berulang.