Brilio.net - Membangun sebuah biro perjalanan wisata bukanlah sekadar urusan bisnis, melainkan tentang menjaga komitmen yang telah dipupuk lama. Namun, dedikasi tersebut seketika berada di ujung tanduk. Muhammad Fariz Ragil Ramadhani, melalui akun Threads @sarjanabackpacker pada Kamis (16/7/2026), membagikan kisah pilu mengenai seorang peserta turnya bernama Femas asal Madiun yang menghilang saat berada di Korea Selatan.
Peserta tour kabur di Korea
© 2026 /Threads @sarjanabackpacker
Insiden pelarian ini tidak hanya meninggalkan kekecewaan mendalam, tetapi juga merusak reputasi yang telah dibangun dengan susah payah, memicu kerugian finansial yang besar, serta mengancam nasib calon wisatawan lain.
Peserta tour kabur di Korea
© 2026 /Threads @sarjanabackpacker
Kronologi Hilangnya Peserta di Myeongdong
Peserta tour kabur di Korea
© 2026 /Threads @sarjanabackpacker
Pihak travel melalui Muhammad Fariz Ragil Ramadhani menjelaskan bahwa sejak awal perjalanan tidak ada gelagat mencurigakan dari peserta. Pria tersebut dikenal pendiam, bahkan sempat tinggal satu kamar dengan Tour Leader. Komunikasi berjalan normal dan perhatian penuh telah diberikan agar kenyamanan peserta tetap terjaga. Namun situasi berubah drastis ketika rombongan berada di salah satu pusat perbelanjaan.
"Beliau berkata ingin melihat-lihat sepatu di Myeongdong. Lalu menghilang. Tidak pernah kembali ke hotel. Tidak pernah menjawab telepon," tulis akun @sarjanabackpacker (Muhammad Fariz Ragil Ramadhani) dalam rangkaian utasnya, dikutip brilio.net, Sabtu (18/7/2026).
Peserta tour kabur di Korea
© 2026 /Threads @sarjanabackpacker
Pencarian intensif segera dilakukan oleh tim di lapangan. Upaya menyisir lokasi terakhir hingga melaporkan insiden ini kepada pihak berwenang di Korea Selatan terus diupayakan selama berhari-hari, namun belum membuahkan hasil. Pihak travel merasa tindakan ini tampak seperti sudah direncanakan secara matang karena seluruh akses komunikasi langsung terputus.
Dampak Domino dan Beban Denda Ratusan Juta
Dampak dari tindakan sepihak ini sangat masif. Biro perjalanan kini harus menghadapi konsekuensi hukum dan finansial yang berat dari otoritas setempat.
"Kami bukan marah karena kehilangan satu peserta. Kami marah Karena keputusan satu org bisa membuat ratusan peserta berikutnya ikut menjadi korban. Kami travel dikenakan denda 125juta," ungkap Muhammad Fariz Ragil Ramadhani.
Tak hanya itu, kasus ini bisa berpotensi pengetatan visa bagi wisatawan asal Indonesia di masa mendatang.
“Pengajuan visa bisa semakin dipersulit. Nama baik travel Indonesia ikut dipertaruhkan,” imbuh Muhammad Fariz Ragil Ramadhani dalam lanjutan utasnya.
Kekecewaan mendalam dirasakan oleh penyelenggara karena kelalaian satu individu merugikan banyak pihak yang tidak bersalah. Melalui unggahan tersebut, sebuah pesan terbuka disampaikan agar yang bersangkutan bersedia mempertanggungjawabkan perbuatannya.
"Pulanglah ke Indonesia. Hadapi masalah ini dengan baik. Jangan biarkan begitu banyak orang menanggung akibat dari keputusanmu,” tulis Muhammad Fariz Ragil Ramadhani.
Kunjungan Buntu ke Kediaman Madiun
Peserta tour kabur di Korea
© 2026 /Threads @sarjanabackpacker
Demi mencari titik terang, pihak travel berinisiatif mendatangi langsung rumah keluarga Femas yang berlokasi di Desa Bantengan, Kecamatan Wungu, Madiun. Pertemuan dengan sang ibu dilakukan secara baik-baik demi menemukan solusi bersama, namun tim justru menemui jalan buntu.
"Sesampainya di sana, kami bertemu langsung dengan ibunya. Kami datang dengan baik-baik. Tidak ada bentakan. Tidak ada ancaman. Kami hanya ingin mencari jalan keluar. Namun sejak awal... Jawaban yang kami terima hanyalah... "Saya tidak tahu.”,” jelas Muhammad Fariz Ragil Ramadhani.
Peserta tour kabur di Korea
© 2026 /Threads @sarjanabackpacker
Kecurigaan tim semakin menguat saat memeriksa ponsel milik sang ibu. Riwayat percakapan dengan sang anak diketahui telah dihapus secara sengaja dengan dalih emosi. Selain itu, ditemukan pula aplikasi penerjemah bahasa Korea di dalam perangkat tersebut. Tim mendokumentasikan semua temuan ini sebagai bahan klarifikasi, meski pulang dengan membawa lebih banyak misteri.
Peserta tour kabur di Korea
© 2026 /Threads @sarjanabackpacker
Peserta tour kabur di Korea
© 2026 /Threads @sarjanabackpacker
Seruan Menjaga Kepercayaan dan Reputasi Bangsa
Peserta tour kabur di Korea
© 2026 /Threads @sarjanabackpacker
Utas yang viral ini memicu gelombang simpati publik yang sangat besar, hingga pihak travel membagikan pembaruan informasi pada Jumat (17/7/2026). Respons masyarakat yang ikut membagikan kisah ini memberikan kekuatan moral bagi pengelola tur yang merasa tidak berjuang sendirian. Pihak travel menegaskan bahwa persoalan ini jauh lebih besar daripada sekadar hilangnya satu pelanggan.
Peserta tour kabur di Korea
© 2026 /Threads @sarjanabackpacker
"Banyak yang mengira... "Ah, paling cuma satu peserta yang kabur." Padahal... Ini bukan hanya tentang satu orang. Ini tentang kepercayaan. Kepercayaan yang kami bangun bertahun-tahun. Kepercayaan vendor di luar negeri kepada travel Indonesia. Kepercayaan negara tujuan kepada masyarakat Indonesia. Dan kepercayaan ratusan peserta lain yang mempercayakan liburannya kepada kami,” tulis Muhammad Fariz Ragil Ramadhani dalam utas di waktu selanjutnya.
Peserta tour kabur di Korea
© 2026 /Threads @sarjanabackpacker
Melalui momentum ini, Muhammad Fariz Ragil Ramadhani mengimbau seluruh elemen masyarakat untuk tidak menyalahgunakan visa wisata demi kepentingan lain, seperti bekerja secara ilegal. Pihak travel mengingatkan bahwa tindakan tersebut mengorbankan kerja keras tim operasional, reputasi vendor, serta hak warga negara lain yang ingin berwisata secara resmi.
Peserta tour kabur di Korea
© 2026 /Threads @sarjanabackpacker
Pihak travel menegaskan tidak menaruh kebencian pribadi atau berniat mempermalukan, melainkan hanya menuntut tanggung jawab moral.
"Untuk Femas... Kalau suatu hari nanti kamu membaca thread ini... Ketahuilah... Kami tidak sedang membencimu. Kami tidak ingin mempermalukanmu. Kami hanya ingin kamu pulang. Masih ada jalan untuk menyelesaikan semuanya dengan baik. Masih ada kesempatan untuk bertanggung jawab. Jangan biarkan orang tua, travel, vendor, dan peserta lain terus menanggung akibat dari keputusanmu,” ujar Muhammad Fariz Ragil Ramadhani dalam akun @sarjanabackpacker
Recommended By Editor
- 100 Travel quotes estetik bikin terlihat keren di media sosial
- Cerita pria yang memilih umrah mandiri ini ongkosnya lebih murah dari travel, begini rinciannya
- 100 Travel quotes tentang keluarga, bikin harmonis dan ceria
- Nggak makan tempat dan tak kusut, cara mudah lipat baju untuk travelling dalam 30 detik
- Rekomendasi 7 hotel dekat stasiun Bandung, jalan kaki langsung sampai













