Brilio.net - Film Korea sedih benar-benar berhasil membuat siapa pun yang menontonnya benar-benar tersedu, terenyuh, dan bahkan benar-benar menangis. Film-film tersebut berhasil menampilkan cerita yang realistis dan menarik perhatian para penontonnya.
Selain itu, plot cerita yang sering tak diduga-duga membuat film Korea yang memuat kisah sedih tersebut berhasil menarik empati banyak penontonnya. Kisah tentang ketidakberuntungan, stigma lingkungan, hingga berbagai hal yang tak sepenuhnya bisa dikendalikan oleh setiap pemeran utama.
Film-film tersebut mencoba menampilkan cerita-cerita kecil yang kerap terjadi, tidak hanya bagi orang Korea saja, melainkan bisa dirasakan oleh semua orang yang menontonnya.
Dirangkum brilio.net dari berbagai sumber, Kamis (27/1), berikut 11 film Korea sedih yang bikin banjir air mata, cerita Hope terenyuh.
1. Kim Ji-Young: Born 1982 (2019).
foto: imdb.com
Kim Ji-young: Born 1982 merupakan film melodramatis yang mengisahkan seorang perempuan yang sudah menikah dan selalu dituntut berbagai hal oleh lingkungan sekitarnya. Kim Ji-young, perempuan Korea biasa usia 30-an yang sering kali merasa berat menjalani rutinitasnya sebagai seorang ibu rumah tangga. Walaupun menikah dengan orang yang dicintainya, tetapi ia masih harus berusaha keras untuk membesarkan anak perempuannya dan meninggalkan banyak hal keinginan.
Sementara itu, Jung Dae-hyun pun mulai khawatir dengan istrinya yang terlalu banyak memikul beban, terutama beban pikiran dari tuntutan lingkungan sekitarnya, Dae-hyun pun mendatangi psikiater dan menyatakan bahwa istrinya sudah menjadi orang lain yang tak dikenalnya dahulu. Namun, setelah mendatangi psikiater tersebut, Dae-hyun pun sadar bahwa istrinya tidak baik-baik saja.
2. Birthday (2019).
foto: imdb.com
Birthday berkisah tentang keluarga kecil Jung-il dan Soon-nam dengan dua orang putra-putri mereka. Mereka tampak bahagia dengan anak-anak lucu yang membuat hidup mereka secara berharga.
Kebahagiaan tersebut kemudian terkoyak saat Su-ho, putra sulung mereka menjadi salah satu korban hilang dalam tragedi Sewol Ferry pada 16 April 2014. Jung-il selalu merasa bersalah karena tidak menemani putranya tersebut saat kejadian. Di tengah kesibukannya bekerja membuka toko kelontong, keluarga ini terus berusaha menanam harapan setiap harinya dan merawat sebaik mungkin Ye-sol yang menjadi anak satu-satunya mereka.

